Kajari Srikandi Pertama Di Babel Terapkan Inovasi Penanganan Perkara Berbasis IT

Jakarta-Stand pameran pelayanan publik berdiri diujung pojok di sisi gedung Satya, Badan Pendidikan dan Latihan Kejaksaan RI. Sejumlah brosur dan liflet berjejer di atas meja dan buku panduan, ada juga buku tamu terletak diatas meja yang dijaga para jaksa srikandi muda dari Kejaksaan Negeri Belitung, Propinsi Bangka Belitung.
Distand pameran itu juga terpampang 3 buah televisi sebesar 32 inci, seorang perempuan muda berkerudung tengah asyik menjamah mouse komputer untuk memantau perkembangan administrasi yang tengah aktif melalui saluran internet.
Dia adalah Sekti Anggraini, perempuan yang didapuk sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Belitung, propinsi Bangka Belitung.
Anggraini, kerap disapa koleganya sesama jaksa itu adalah perempuan pertama yang menggunakan IT untuk menjalankan pekerjaannya. Karena kata dia tanpa memanfaatkan IT maka pekerjaan akan sedikit terhambat dalam perkembangan jaman saat ini.

Meski, profesinya sebagai jaksa, alumnus Fakultas Hukum dari Universitas Airlangga 1994 itu menambahkan bahwa penggunaan IT kalau tidak sekarang kapan lagi di mulai.
“Saya anggap perlu inovasi dalam dunia pekerjaan saat ini, zaman sudah berkembang, teknologi pun terus berkembang, kalau ngga kita memanfaatkan, sebagai modal bekerja, apalagi berbau administrasi, maka kita akan tertinggal jauh dalam peradaban zaman kekinian,” ucapnya saat berbagi cerita soal dunia IT kepada pitunews.com.
Karena itu, Ibu dari dua anak putra dan putri ini pun mengaku akan terus meningkatkan pelayanan publik bagi masyarakat di wilayah hukum Belitung tempat dia menjadi pucuk pimpinan. Meski sementara ini, kata dia masih mengembangkan tiga program aplikasi dalam penanganan perkara.
“Ada tiga sistem IT yang sudah kami bangun, pertama Simpor (Sistem Informasi dan Laporan Berbasis IT) Belitung. Dua, sistem E-TP4D, untuk memantau dan mengakomodir TP4D di wilayah Kejari Belitung, ketiga Tarsius Belitung, yakni Teknologi Administrasi dan Sistem Informasi Pidana Khusus,” ujarnya.
Ketiga sistem ini dibangun untuk memantau proses jalannya administrasi diseluruh bidang penanganan perkara, dan sudah terhubung secara terpadu mulai administrasi persuratan sampai administrasi database dan penanganan perkara.
“Sistem Simpor misalnya untuk perkara Pidum ada dengan sistem SMS rimainder, jadi setiap jaksa ada peringatan melalui SMS untuk tahap-tahap dan waktu penanganan perkara. Dari proses ini laporannya masuk ke saya,” kata penganti Eliza Nova Saragih yang saat ini menduduki Kepala Kejari Purwokerto.
Memang Anggraini bukan jaksa perempuan pertama yang menduduki kursi empuk sebagai pucuk pimpinan di korps adhiyaksa wilayah Belitung itu. Namun baru 5 bulan menjabat, dia terus berinovasi mengembangka roda organisasi kejaksaan dengan inovasi melalui perangkat teknologi.
“Sekarang Teknologi sudah maju, kalau mengunakan dengan tepat dapat memudahkan kita bekerja, sistematis, dan cepat. Dulu kita kerja cari-cari berkas, sekarang semua database masuk ke Simpor dari semua bidang seksi baik Pidsus, Pidum, Datun, dan lainnya,” papar mantan koordinator pada Kejati Banten itu.
Diakuinya untuk menjalankan sistem IT, dia dibantu 3 jaksa muda yang memahami IT, bahkan saat ini beberapa staf setiap bidang seksi akan di training agar cepat memberikan pelayanan kepada publik. Terutama dalam pemberian informasi proses penanganan perkara di Pidsus maupun di Pidum.
Terkait pemimpin perempuan, dia mengaku tak ada kendala untuk menjalankan roda organisasi dibawahnya. Prinsipnya kata dia bahwa kejaksaan tempat dia bekerja sebagai satu keluarga besar.
“Seperti teman diskusi, suasana yang akrab, tidak ada batasan sebagai bawahan ataupun atasan. Apalagi, semua masih pejabat baru sebagai Kepala Seksi pertama di situ. Generasi muda kejaksaan dan akrab bersahabat. Mereka memiliki kemampuan lebih kreatif, bahkan mereka yang memberi ide ke saya,” ungkap dia.
Namun semua ini dia yakini bahwa dukungan keluarga menjadi penyemangat dalam menjalani kariernya sebagai jaksa yang berpangkat melati dua dipundaknya.
“Suami dan anak-anak merupakan penyemangat dalam menjalankan tugas sebagai aparatur penegak hukum,” tutup Angraeni yang memiliki tempat tinggal di Bogor itu.
Terpisah, Kepala Kejati Bangka Belitung Aditya Warman mengakui baru Kejari Belitung yang menerapkan sistem inovasi dengan memanfaatkan IT itu.
“Jadi, sudah betul itu bagus kita dukung kita dorong inovasi itu. Kepada Kejari lain bisa mengikuti langkah itu, terutama di wilayah hukum Kejati Babel,” ucap Aditya. (Edo)

 

source bye : pitunews.com

[contact-form]

 

Source: http://kejari-belitung.go.id

Tags: